Buah Kesabaran - CSSMoRA UINSA

Kabar Terkini

CSSMoRA UINSA

SITUS CSSMORA UINSA

Post Top Ad

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Rabu, 18 Oktober 2017

Buah Kesabaran




Oleh: Ramadhani
مَا  أُعْطِيَ أَحَدٌ مِنْ عَطَاءٍ خَيْرٌ وَأَوْ سَعُ مِنَ الصَّبْرِ
“Tidaklah seseorang diberi sesuatu yang lebih baik dan lebih luas daripada kesabaran”. (HR.Bukhari dan Muslim)
Hadits di atas diriwayatkan dari Anas ra, ia berkata, Nabi SAW melintas di dekat seorang wanita yang menangis di sebelah kuburan, Nabi SAW kemudian berkata, ‘bertawakalah kepada Allah dan bersabarlah! Wanita itu berkata ‘menjauhlah engkau tidak tertimpa musibah seperti yang menimpaku. Ia tidak mengenal beliau. Lalu ada yang memberitahu padanya, Dia itu Nabi SAW. Wanita itu kemudian mendatangi pintu Nabi SAW, ia tidak melihat adanya penjaga pintu rumah beliau, ia kemudian meminta maaf aku tidak mengenalimu’ beliau kemudian bersabda’ Sesungguhnya sabar itu tidak lain pada saat pertama kali musibah menimpa.
Berbicara tentang kesabaran kita akan teringat dengan kisah yang tiada duanya yakni kisah ujian dan kesabaran Nabi Ayyub as. Allah SWT berfirman tentang Ayyub as saat tertimpa penyakit:

“Dan (ingatlah kisah) Ayyub, ketika dia berdoa kepada Rabb-Nya. (Ya Rabbku), sungguh aku telah ditimpa penyakit, padahal Engkau Tuhan Yang Maha Penyayang dari semua yang penyayang.” (Al-Anbiya’[21] : 83)
Nabi Ayyub as ditimpa penyakit disekujur tubuh selama 18 tahun tak kunjung sembuh. Makan dan minum tak enak, tidurpun tak nyenyak. Setelah berjalan selama 18 tahun menurut pernyataan ahli tafsir istrinya datang dan mengatakan padanya, “kenapa engkau tidak mengadu kepada Yang Maha Esa lagi Tunggal? Karena Dia Maha menyembuhkan penyakit”
Semula Nabi Ayyub as punya banyak harta, tanah luas, perkebunan, hewan ternak, anak-anak, pelayan, pembantu dan para pengikut. Namun Allah mencabut semua itu. Ayyub keluarga, anak, harta benda dan wibawa. Orang-orang dekat lebih dulu meninggalkannya sebelum orang jauh. Orang tercinta lebih dulu meninggalkannya sebelum musuh. Terlebih lagi ia tertimpa penyakit-penyakit yang tak mampu ditanggung oleh manusia, sampai-sampai dagingnya berjatuhan, tiada lagi tersisa selain kulit dan tulang. Istrinya, Rahmah satu-satunya orang yang sabar tetap mendampingi selama menjalani ujian ini. Ia selalu mempersiapkan abu sebagai alas bagi Ayyub . Karena sangat parah penyakit yang dialami Ayyub dan mengeluarkan bau busuk, ia disingkirkan di tempat pembuangan di luar kampung halamannya. Istrinya yang sabar itu bekerja sebagai pembantu rumah tangga, untuk selanjutnya datang membawakan makanan bagi Ayyub .
Saat penduduk mulai menggerutu dan merasa sial pada wanita itu karena kondisi suaminya, ia mencukur kepangan-kepangan lalu ia jual untuk membawakan makanan enak bagi Ayyub. Saat itu, Ayyub  menolak memakan makanan itu sebelum ia beritahukan dari mana makanan itu berasal. Sang istri kemudian menyingkap kepalanya, Ayyub melihat kepala istrinya botak. Saat itulah Ayyub berdoa kepada Rabb. Allah SWT berfirman, “Maka Kami kabulkan doanya, lalu kami lenyapkan penyakit yang ada padanya dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan Kami lipat gandakan jumlah mereka sebagai suatu rahmat dari Kami, dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Kami. (Al-anbiya[21] : 84)
Istri Ayyub mengatakan padanya, “Andai engkau berdoa kepada Allah untuk menyembuhkanmu,’Ayyub mengatakan padanya,’bagaimana kamu ini! Sebelumnya kenikmatan selama tujuh puluh tahun, lantas apakah kita tidak bersabar menghadapi kesusahan selama itu pula?
Tak lama setelah itu, Ayyub sembuh. Dan sebagai balasan atas ujian yang ia hadapi dengan sabar, ia mendapatkan dua puluh enam anak, yang paling tua namanya Busyra yang diangkat Allah sebagai Nabi sepeninggal Ayyub dan dikenal sebagai Dzulkifli. Ayyub hidup selama 93 tahun.
Apabila Allah mencintai seorang hamba, Allah akan timpakan ujian padanya. Allah SWT mencintai Ayyub dan sebagai tandanya, Allah menimpakan ujian padanya. Pembaca sekalian!dikatakan kepada Ayyub,”Hai Ayyub! Janganlah kau merasa kagum pada kesabaranmu, karena aku tahu daging dan darah yang dihisap oleh setiap helai bulu rambutmu. Andai aku tidak memberikan kesabaran utuk setiap helai bulumu, tentu kau tidak bersabar. []
Sebuah kata mutiara tentang sabar yang dapat dijadikan pedoman hidup.
Jadikan cobaan sebagai pelajaran, jangan pernah mengeluh karena kesusahan, saat itulah kita diajarkan untuk menjadi orang sabar[ ]
Sepenggal kisah nyata tentang kesabaran
Aku hanya bisa pasrah memandang Saidah, istriku yang terbaring lemah disebuah rumah sakit (RS) di kota Madinah. Namun, keteganganku mendapati istri yang harus menjalani persalinan di tanah rantau dan jauh dari keluarga rupanya belum cukup. Sebab ternyata, istri telah divonis operasi cesar oleh dokter yang menanganinya. Tiba-tiba seorang petugas langsung menghampiriku dan menyodorkan secarik tagihan berisi beberapa angka “Iya, benar! Hanya Rp 17.000.000 dan harus dibayar cashsekarang, “kata petugas itu datar. Tanpa sadar, bola mataku perlahan mulai mengair. Ya Rabb, darimana uang sebanyak itu? Jangankan tabungan, handphone pun adalah barang yang sangat mewah bagiku dan masih berstatus mahasiswa Universitas Islam Madinan (UIM). “kami baru bisa bertindak jika biaya administrasi itu sudah lunas, “kata petugas rumah sakit itu terngiang kembali, layaknya palu godam menghantam kepalaku.
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱسۡتَعِينُواْ بِٱلصَّبۡرِ وَٱلصَّلَوٰةِۚ إِنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلصَّٰبِرِينَ ١٥٣ 
“Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sungguh Allah beserta orang-orang yang sabar.” [QS: Al-Baqarah: 153]
Penggalan surat yang sudah lama kuhafalkan itu tiba-tiba berkelebat dalam pikiranku. Seolah ada yang menggerakkan, tanpa pikir panjang aku langsung melangkah mengambil air wudhu dan bersimpuh di hadapan-Nya. Seolah tanpa jarak saat itu aku benar-benar menumpahkan segala curhatanku kepada Allah SWT. Shalat dan berdoa itu saja yang kuulang-ulang terus. Entahlah, rupanya beberapa dokter iba melihat perbuatanku. Mereka bersedia membantu proses operasi tanpa perlu dibayar “Alhamdulillah, pertolongan Allah mulai terbuka, “demikian batinku dalam diam. Ibarat pepatah, Malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih,” saat menghadap direktur rumah sakit, para dokter spesialis itu malah langsung kena semprot oleh sang direktur.”Memangnya ini rumah sakit punya bapak kalian. Semua peralatan dan obat-obat itu harus dibayar, kalian di sini hanya bekerja menjalankan tugas saja, tidak punya hak untuk membebaskan biaya pasien cecar, demikian direktur yang emosi.
Aku hanya diam membisu di belakang, dalam hati, aku kasihan melihat para dokter itu. Mereka kena marah hanya karena ingin membantu urusanku saja. Entah mengapa, lagi-lagi aku ingin shalat dan mengadu kepada-Nya. Tiba-tiba hati ini terasa sejuk dalam lautan doa yang terus kupanjatkan kepada Allah SWT. Akhirnya Allah SWT mempertemukanku dengan salah seorang pengurus rumah sakit, uniknya orang yang baru kukenal itu kaget dan sontak merangkul badanku dengan akrab. Usut punya usut ternyata ia membaca nama yang tertera di kartu lembaran identitasku, Nashirul haq al-Bilawi. Rupanya orang itu mengira diriku berasal dari suatu daerah semarga dengannya dari dataran Arab, yaitu Alwi atau Alawi. Entah apa karena saya dianggap garis keturunan Alawi dari Hadramaut. Padahal “Bilawi” itu adalah Belawa, nama sebuah kampung di pelosok Sulawesi Selatan. Singkat kata, semua operasi ditanggung olehnya. Subhanallah Walhamdulillah[]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Top Ad