DEAR: PEMILIK RINDU - CSSMoRA UINSA

Kabar Terkini

CSSMoRA UINSA

SITUS CSSMORA UINSA

Post Top Ad

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Sabtu, 21 Oktober 2017

DEAR: PEMILIK RINDU




Oleh: Naila Mohammed
Sore itu, hanya mendung langit yang menemani lamunanku di ujung kamar. Hening, ditemani semilir kesejukan angin berhembus yang menerobos celah-celah jendela sampai ke kulitku. Mengantarkan butiran tipis air langit yang menyegarkan jiwa. sudah sangat lama aku tak merasakan sentuhan titik-titik hujan. Kali ini hanya duduk seorang diri di depan jendela kamar, dengan membawa mushaf di tangan kananku, namun tak ku baca. Hanya menatap deraian hujan yang turun di luar sana, dengan tatapan kosong dan senyum tipis. Tiba-tiba hati ini merasa merindu, rindu yang tak pernah ku sampaikan kepadanya, sosok pemilik rindu yang berada jauh di sana
Telah lama hati ini menyimpan rasa pada sosok pria lembut dan cerdas yang pernah dua bulan menjadi guru badal Ustadz Asyrofi mengajar ilmu tafsir ketika beliau sakit. Gus Muhammad, begitu kami memanggilnya. Aku sungguh tak mampu mendefinisikan rindu ini, bermula ketika ia membuat kami terpesona akan keluasan ilmunya tentang Al-Qur’an, dia pun telah hafal Al-Qur’an ketika masih berusia 15 tahun, dan kini usianya 28 tahun, hanya beda tujuh tahun diatasku. Kini iatak lagi mengajar di pesantren kami, karena harus di tugaskan untuk ber-khidmah di pesantren lain. Aku sungguh sungguh menyadari siapa diriku, gadis yatim piatu yang bukan siapa-siapa, sungguh jauh berbeda dengannya yang begitu tampak indah sempurna dimata kaum hawa, dengan keelokan rupa dan sikapnya. Tapi salahkah hatiku merindu? Ah, sudahlah. Aku selalu mencoba tuk menjauh dari bayangnya yang sering melintas di pandangan semuku.
Namaku Aisyah. Ais, begitulah sapa setiap orang yang berjumpa denganku sebelum di pesantren, tepatnya tiga tahun yang lalu. Tapi sekarang namaku berubah menjadi Icha, yah memang karena teman-temanku begitu kreatif mengikuti tren memanjakan lidah dalam memanggil seseorang. Hidupku begitu sederhana, gadis desa yang merantau jauh dari kampung halaman untuk mendalami ilmu Al-Qur’an dan mencoba tuk menghafalnya. Aku tak banyak bicara, teman-temanku menjuluki aku dengan sebutan bintu qolam yang berarti si anak pena. Karena aku hampir tidak pernah menceritakan tentangku pada orang lain, dan hanya berbagi kisah dengan sahabat bisuku yang setia. Namun aku tak pernah merasa kesepian. Tasya adalah pelangi setia yang tiada henti mewarnai dunia diamku, sahabat yang sangat memahami siapa diriku, walaupun aku tak banyak menceritakan tentangku padanya. Tasya sungguh berbeda denganku, selalu tampak ceria dan suka membuat keributan karena suaranya yang lantang ketika berbicara. Entah lah, teman-teman kami yang lainpun banyak yang bertanya-tanya tentang keakraban kami, karena mereka juga mempermasalahkan perbedaan karakter yang kami miliki, tapi kami tak peduli, aku menjalin persahabatan yang baik dengannya.
Suara teriakan teman-teman dari luar kamar memecahkan lamunanku, “Oleh-olehnya mana he? Apa kabar?” salah satu kalimat yang ku dengar, yang memberi stimulus pada raut wajahku untuk tersenyum. Aku beranjak dari tatapan kosongku menuju aula. “Mbak Devi, yang balik tadi Tasya kah?” Tanyaku dengan raut muka senang. “Oh tadi? Bukan Dek Icha, yang abis balik dari rumah tadi si Putri.” Jawabnya dengan sedikit penekanan. “Oh, ya sudah Mbak, makasih.” Aku mulai beranjak kembali memasuki kamar. Sudah seminggu ini Tasya pulang karena sakit, aku mulai menghawatirkan keadaannya, tak biasanya dia pulang cukup lama karena sakit. Setiap hari aku selalu menanti kedatangannya kembali ke pesantren. Tanganku beralih mengambil beberapa lembar uang dan meletakkan Al-Qur’an yang tadinya ku bawa di loker buku milikku. Kakiku melangkah mengarah ke kantor. Aku berniat untuk menelfon Tasya di wartel. Keresahan hatiku mulai membuat konsentrasiku pudar, karena terlalu terburu-buru melangkah, ibu jari kakiku sedikit tergores darah. “Dek Icha, hati-hati lah kalau jalan.” Ujar Kak Laila spontan seraya membantuku berdiri. 
Sampailah aku di wartel, namun keadaan yang menjengkelkan yang harus ku temui. Yah, kelaziman seorang santri yang pasti kita jumpai di pesantren, antri. Ku hempaskan nafasku pelan, duduk di kursi antrian. Tiba-tiba terdengar gemerisik suara panggilan dari speaker yang terpasang di setiap sudut pesantren. “Aisyah Khoirun Nisa, di tunggu di ruang besuk B3.” Ekspresi wajahku mulai berubah agak bingung. Terbesit Tanya dalam hati “Siapa yang mencariku?” Kualihkan pertanyaan hatiku untuk mencari jawaban. Betapa aku terkejut melihat sosok lelaki asing di ruang B3. Tiada siapa-siapa yang ku kenal disana. Betapa malunya aku. “Eh, Maaf!” Ku tundukkan pandanganku dan berbalik badan. 
“Tara” Suara mengesalkan yang membuatku kaget dan dua kali merasa malu. “Tasya, kamu gak abis-abis usilnya.” Karena merasa malu, aku menariknya keluar dari ruang B3. Kedua tanganku meraih punggungnya dari arah depan. “Lama banget di rumahnya, gimana kabar kamu? Beneran udah sembuh?” Tanyaku hawatir melepas rindu. “Weh, main peluk-peluk aja. Kangen banget ya sama aku?” Sahutnya cengingiran. “Ih dasar ni anak. Kirain tadi salah panggil loo, siapa coba yang bakal nyariin aku. Tapi kok ada cowok di dalem?” Sambungku padanya. Tiba-tiba Tasya tertawa dengan tatapan tajam. Raut wajahku spontan berubah agak bingung, ku tundukkan kepalaku sambil menggaruk keningku. “Sini deh!” Ia menarik tanganku untuk kembali masuk ke ruang B3. “Sya, dibilang disana ada cowok kok.” Terangku mencoba meyakinkannya, tapi Tasya hanya tersenyum tak mengindahkanku. 
Mataku tertunduk sayu karena harus mengikuti arah tangan Tasya yang menggenggamku. Kali ini aku harus mengalah. “Icha, kenalin! Ini kakakku Kak Muham namanya. Dan ini Icha Kak, yang sering aku ceritain kalau di rumah.” Kami saling menatap tanpa mengedipkan mata. Tasya sesekali mengarahkan pandangannya padaku, lalu beralih menatap kakaknya. “Ekhem.” Seketika aku ber-istighfar dan mengalihkan pandanganku ke bumi yang ku pijak. Aku jadi sedikit salah tingkah saat mendengar namanya. Mengingatkanku pada dia yang selalu ku rindu. Tapi entah mengapa aku merasa tenang melihat senyum tipisnya. “Seganteng itu kah kakakku yang ku anggap jelek ini? Sampe kagak kedip oiy.” Ejek Tasya padaku. “Nggak usah di dengerin Mbak! Ya emang seperti itu gayanya Tasya kalau ngabisin orang.” Sahutnya sambil tertawa, mencoba menipas rasa sungkanku. “Ya udah Dek, kakak balik dulu, kamu yang rajin, yang serius apalannya, jaga kesehatan.” Pesan kakak Tasya sebelum pergi. “Idih lebay deh, hehe. Iya dah, siap Pak Ustadz.” Jawab Tasya tampak sok cuek. “Assalamu’alaikum” Pamitnya seraya menganggukkan kepala menatapku.
Kakinya mulai melangkah menjauh dan semakin tak tampak oleh penglihatanku. “Wa’alaikum salam” Aku hanya menjawab dalam hati. Penyayang dan sopan. Begitulah kesan yang muncul pertama aku berjumpa dengannya. Ah sudah lah, hanya menguraikan kesan, tak lebih. “Woy, yuk ke kamar!” Ajak Tasya. Aku hanya mengangguk. “Sya, kakak kamu guru?” Aku mulai membuka pembicaraan. “Iya, dia ngajar di pesantren deket rumah. Tapi mungkin dua minggu lagi dia bakal ngajar disini, kakak kan alumni sini juga. Kebetulan dia kan dulu murid kesayangan ustadz Asyrofi, lha kakak diminta buat gantiin beliau, soalnya Ustadz Asyrofi katanya mau pindah ngajar di pondok mertua beliau.” Jawabnya detail. 
Detik waktu diatas nadiku terus berputar, 13 hari sudah semenjak perjumpaanku dengan Kakak Tasya, aku selalu menghitung waktu menanti dua minggu ke depan. Menunggu saat aku melihat apa yang diceritakan Tasya tempo hari. Benarkah dia akan menggantikan Ustadz Asyrofi menggajar disini? Apakah itu berarti Gus Muham tak akan kembali? Aku mulai merasa gundah, akan lebih baik jika esok tak pernah datang. Lama sudah rasanya aku tak bersua dengan sahabat bisuku, sampai aku tak sadar, tinta pena yang biasa kupakai untuk menggores pelangi hidupku telah mengering. “Dear Sang pemilik rindu, apa kabar dirimu disana? Aku masih bergulat dengan rasa gundah yang tiada usai menyelimuti hati. Aku tak bisa berbuat apa-apa. Hanya menunggu di ujung pengharapan yang entah berbalas atau tidak. Aku berharap rindu yang ku titipkan pada angin menembus alam sadarmu, sehingga setidaknya aku bisa tersenyum lega walau harus menanti. Berulang kali ku coba mengalihkan rasa ini, namun hatiku masih setia memilihmu. Aku hanya bisa terus berusaha memantaskan diri, menantimu dalam diam di setiap doaku. Cepat kembali Rindu…”
Terik matahari menembus sudut-sudut ventilasi memancarkan sapa semangat tuk memulai hari, tapi tidak untukku. Ada hal yang membingungkan dari apa yang ku pikirkan. Sebenarnya apa yang ku harapkan dari datangnya hari ini? Ada kerisauan saat menerima berita digantikannya Ustadz Asyrofi oleh Kakak Tasya, tapi disisi lain aku juga merasa senang menyambutnya. “Ayo Cha.” Tasya mengajakku untuk bersegera menuju kelas. “Tunggu bentar! kitabku kok nggak ada ya?” aku mencoba mengingat-ingat. “Eh Sya, kakak kamu jadi ngajar?” Tanyaku. “Nggak tahu sih, dia nggak ada ngabarin aku.” Jawabnya. “Kenapa justru aku merasa kecewa? Bukankah tu berarti ada peluang untuk Gus Muham kembali mengajar?” Gumamku dalam hati. “Udah yok! Nggak usah bawa kitab dulu deh.” Pinta Tasya. Akhirnya aku beranjak pergi bersama Tasya. 
Ku tetapkan langkahku dengan memperbaiki niat menuju majlis ilmu. Duduk rapi menunggu sang ahlu al-‘ilmi.Beberapa saat kami menunggu, pintu berciut halus perlahan terbuka. Dia yang sopan budinya memasuki kelas dengan muka tertunduk. Kenapa tiba-tiba detak jantung ini tak beraturan? Hatiku menarik syaraf-syaraf bibirku untuk tersenyum. Tak jelas rasanya. Ada apa denganku ini? Teman-teman yang lain mulai tampak bebisik-bisik dengan senyuman lain yang berbeda-beda arti. Ya seperti itu kebiasaan santri putri apabila ada ustadz baru yang mengajar. Kemudian beliau memperkenalkan diri. Tak lagi pantas aku menyebutnya dengan sapaan Dia, karena beliau kini menjadi penyampai ilmu padaku. “Sebelum saya kesini, dijalan saya liat ada kitab tergeletak diatas meja, Aisyah Khoirun Nisa, ada di kelas ini? Kalau ada silahkan di ambil!” Aku mulai tampak gugup, aku berdiri dari tempat dudukku mengarah ke meja guru untuk mengambil kitabku. “Jazakumullah Ustadz” doaku untuknya. “Amin, wa ‘alaiki kadzalik”. Jawabnya lirih. Cara beliau menyampaikan materi persis seperti Gus Muhammad, bahkan aku merasa lebih nyaman dengan carapengajaran beliau. 
Deraian gemericik air langit menetes di celah-celah tanah yang layu. Ditemani pelukan mesra sang angin yang menghembus pelan, mengusap hawa panas ditubuhku. Aku keluar dari kelas dengan jalan berjingkat menghindari genangan air. Sampai di depan kantor, ada yang memanggilku. “Icha ada undangan buat kamu” Ujar Nana sambil menyodorkan amplop undangan untukku. Bagai karang yang di hempas sang ombak, hatiku hancur terseret badai ketika membuka surat undangan pernikahan Gus Muhammad. Rasa yang telah lama ku gantungkan terjatuh sudah. Mulai saat itu aku sering tampak murung. Aku pun merasa bahwa Tasya juga tampak bingung dengan sikapku akhir-akhir ini. Puncak depresi semakain merusak suasana tenangku. Ku tekatkan diri tuk pergi diam-diam dari pesantren. Aku hanya sedang ingin sendiri. Menuju muara peraduan di samping desir pasir putih yang tak jauh dari pesantren. Namun ditengah perjalananku, Tiba-tiba aku tak sadarkan diri.
Cahaya terang menerobos masuk di kornea mataku. “Icha, kamu nggak papa?” suara Tasya terdengar samar. Aku tersadar bahwa aku berada di rumah sakit. “Berapa lama aku tertidur Sya?” tanyaku. “Sudah tiga hari. Kakak yang bawa kamu ke sini, kamu kecelakaan di jalan mau ke pantai. Kamu kok bisa ada disana?” jelas Tasya. “Ustadz Muham?” Sahutku terheran. Dia selalu muncul saat aku tengah risau. Semenjak itu aku selalu memikirkannya. Setelah keadaanku kembali pulih, Icha memintaku untuk menemaninya di ruang besuk untuk bertemu dengan keluarganya. Disana juga tampak ada Ustadz Muham, setelah bersalaman dengan ibunya aku duduk di dekat Icha. “Nak Icha, kami banyak mendengar tentang kamu dari Tasya. Kamu gadis yang baik dan sholihah. Sesungguhnya kami berniat melamar kamu untuk anak kami Muhammad.” Betapa kagetnya aku dengan ungkapan itu. Ku coba tenangkan sikapku. “Apa kamu bersedia menjadi mutiara hati untukku Aisyah Khoirun Nisa?” Sungguh aku merasa bahagia, sangat tak pantas aku menolak orang yang baik agamanya seperti beliau. Akupun menerimanya. Tak ku sangka sebelumnya. Ustadz Muham lah sang pemilik rindu yang ada di setiap goresan syair semuku. Aku berharap dia menjadi jawaban terindah dari setiap doa yang ku panjatkan. Aku mencintainya karena-Mu Ya Allah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Top Ad